Senin, 19 Oktober 2015

Aku Berharap itu Kamu

Aku termangu di depan laptopku dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya. Aku menyibukan diriku demi melupakanmu, segala kegiatanku akhir-akhir ini sedikit membantuku untuk melupakan kenangan tentangmu, meskipun tak seutuhnya membantu.

Mungkin, kamu tidak akan membaca tulisan ini, tapi aku  akan selalu menulis tentangmu, meskipun aku pun tahu, kamu tidak akan pernah tahu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa tersiksanya hari-hariku tanpa mengetahui kabar darimu. Kamu tidak akan mengerti betapa dadaku sesak setiap memikirkanmu. Kamu tidak akan pernah menyadari betapa rindu di dadaku layaknya kelinci nakal yang memaksa keluar kandang meskipun tahu bahwa dunia luar sungguhlah tidak aman untuk sang kelinci, meskipun aku tahu duniamu bukanlah dunia yang aman untukku.

Berhari-hari, aku berusaha mengisi waktu luangku, dengan apapun yang bisa aku kerjakan agar aku tidak punya waktu bahkan sedetik saja untuk mengingatmu. Karena kamu sudah begitu lekat di sana, karena dirimu sudah punya tempat tetap di sana; di hatiku yang nyatanya belum dihuni orang lain selain dirimu. Dan, aku belum menemukan cara terbaik untuk menghilangkanmu, kamu selalu kembali teringat lagi ketika aku berusaha mengusirmu pergi. Entahlah, mungkin memang kamu diciptakan untuk tetap tinggal, meskipun sebenarnya kebersamaan aku dan kamu tak lagi ada.
Aku memaksa diriku untuk melupakan segala tentangmu, untuk memudarkan senyummu di otakku, untuk menghilangkan jutaan deretan huruf dan angka yang muncul dalam chat kita, untuk mengusir semua rasa cinta dan aku mutlak gagal. Aku harus menerima kenyataan bahwa kamu mungkin akan selalu berdiam di sana, di hatiku yang telah kamu patahkan berkali-kali, namun aku maafkanmu lagi dan lagi.

Salahkan aku jika ini berlebihan, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertarik padamu. Pertama kali melihat semua karyamu, melihat polah tingkahmu, mendengar suaramu, melirik senyummu, dan membaca semua chat kita, sungguh aku tak bisa menahan diri untuk tidak mencintaimu. Meskipun aku tahu mencintaimu adalah awal tragedi buatku, karena aku pasti harus cemburu pada ribuan wanita disekelilingmu, aku harus makan hati karena chat-ku tidak dibalas berkali-kali, dan aku harus berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankanmu. Ya, perjuanganku untuk mencintaimu memang sangat berat, bahkan aku sudah kehilanganmu sebelum aku sempat memilikimu.

Tulisan ini sungguh sangat tidak penting, hanya berisi tangis seorang gadis yang baru berumur dua puluh tahun yang meminta kejelasan. Lalu, apa artinya chat kita hingga larut malam yang bisa membuatku tertawa tak henti itu? Lalu, apa maksudnya kata-kata lembutmu yang bisa menyihirku dalam asa semua? Lalu, apa tujuan dari semua ketika aku mulai jatuh cinta lalu kau pergi seenaknya? Nah, jika kamu membaca ini, tentu kamu akan balik bertanya, "Memangnya kamu siapa?" Aku jelas bukan siapa-siapa dan mungkin aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu menggunakan perasaan, yang tak berpikir bahwa berlian sepertimu tak mungkin jatuh cinta pada tanah liat sepertiku. Seharusnya, aku memang sadar diri, sejak awal percakapan kita itu, aku semestinya tak perlu berharap lebih.

Aku pun ingin berpikir logis, aku pun ingin menggunakan logikaku, dan aku pun ingin tidak sepeka pria, karena menjadi perempuan peka sungguhlah melelahkan. Aku pun ingin tak berharap lebih, tapi aku sudah mencintaimu, dan bagaimana caranya mengantisipasi semua luka jika kamu tidak akan pernah kembali lagi untuk sekadar mengobati perihku? Aku pun ingin melupakanmu, tapi saat tahu bahwa bersamamu sungguhlah menyenangkan, rasanya sangat sulit untuk melupakanmu hanya dalam hitungan hari. Aku pun ingin menjauh dari semua bayangmu, tapi diriku selalu menginginkanmu, mataku hanya mau membaca semua chat darimu, dan hatiku hanya menuju padamu. Lantas, hari ini, aku hanya menyesali semua air mata yang terjatuh sia-sia untukmu.

Aku sungguh jatuh cinta padamu dan rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi bercakap-cakap sesering dulu lagi. Dalam kesibukanmu, aku selalu menatap ponselku. Setiap ada pemberitahuan masuk, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berdering, aku berharap itu kamu. Setiap sebuah chat masuk, aku berharap itu kamu. Setiap layar ponseku menyala, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berbunyi, aku berharap itu kamu.

Aku berharap itu kamu, yang memegang jemariku kala aku kebingungan menentukan arah hidupku. Aku berharap itu kamu, pria yang dengan lembut memelukku ketika aku kelelahan menghadapi dunia. Aku berharap itu kamu, yang menemaniku sepanjang sisa hidupku, dan aku memelukmu layaknya orang yang paling takut kehilangan. Aku berharap itu kamu, pria yang mengecupku dengan sangat pelan, menenangkan tangisku yang sesenggukan, dan berkata bahwa semua akan tetap berjalan.

Aku berharap itu kamu, wahai penghulu malaikat yang berperang melawan setan dan kejahatan. Aku berharap itu kamu, racunku yang juga adalah penenangku.

dari Chacha-mu
yang masih terus diam-diam;
menunggumu.
w/Love KartikaKrystal 
@chachartika95

Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku Tak Minta Banyak

Tuhan... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Ataukah mungkin sekarang sedang turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku sendiri.
Aku tahu Kamu tak pernah sibuk. Aku tahu Kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun Kamu tak segera memberi pukpuk di bahuku. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kamu mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.
Aku sudah tahu, perpisahan yang Kauciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Tapi... bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan?
Nah... kalau yang ini, aku juga sudah tahu. Dia sudah menemukan penggantiku, entah lebih baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh... aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering di dadaku. Aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.
Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika dia menemukan penggantiku hanya dalam hitungan bulan. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasih barunya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena begitu mudah mendapatkan penggantiku. 

Aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta setengah mati pada kekasih barunya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan napasnya. Permintaan yang sama seperti kemarin, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.
Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku saja, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga tak apa-apa.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.

Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku hanya minta agar ia sembuh dari maag akutnya. Agar ia terhindar dari vertigo parahnya. Agar muntah darahnya berhenti ketika tubuhnya kelelahan. Semoga kekasihnya mengerti betul penyakitnya seperti aku mengerti rasa sakitnya.
Kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup.

Rabu, 23 September 2015

Semua Tentangmu

Sebelum menulis ini, aku berusaha menghela napas beberapa kali. Aku baru selesai mengerjakan beberapa tugasku. Tidak lelah, tapi aku sedikit gamang. Tidak mudah menyelesaikan tulisan dengan perasaan berantakan seperti saat ini. Helaan napasku sebenarnya sederhana, hanya untuk menguatkan diri agar luka ditinggalkanmu tidak terasa begitu sakit lagi. Namun, nyatanya, semakin aku berusaha melupakanmu, semakin aku tidak bisa menerima perubahan yang terjadi di antara kita.

Malam itu, insiden salah pencet ternyata membuat kita begitu dekat. Kamu yang ternyata salah memencet huruf di Line-mu malah berbuntut pada percakapan kita hingga larut malam. Meskipun hanya melalui deretan huruf dan angka, entah mengapa kamu berhasil membuatku percaya bahwa cinta yang tulus itu masih ada. Kamu membuat aku sedikit demi sedikit meredam keegoisanku, biasanya aku selalu menuntut seseorang yang aku cintai untuk membalas pesanku hanya dalam hitungan detik. Tapi, denganmu, rasanya aku mulai bisa menerima kesibukan seseorang yang aku cintai.

Sehari setelah insiden yang berakhir menyenangkan itu. Aku mencari tahu tentangmu dari semua sosial mediamu
. Kita mungkin telah lama saling tahu, tapi tak ada yang berani memulai lebih dulu. Aku mengintip Instagram-mu. Dan, kulihat seorang pria yang atraktif serta energik, pria yang berhasil meraup perhatianku tanpa sisa. Setiap polah tingkahmu, membuatku mulai mengagumi semua karyamu. Aku jatuh cinta pada suara. Aku jatuh cinta pada semangatmu saat berbicara tentang idolamu. Aku jatuh cinta pada setiap gerak-gerik yang kamu tunjukan. Aku jatuh cinta pada rambut tipismu yang gondrong. Aku jatuh cinta pada mata merahmu yang selalu terlalu lelah. Aku jatuh cinta pada caramu bercerita. Aku jatuh cinta, sayangnya kau tidak.

Kamu berhasil memenjarakanku pada bayang-bayang yang aku buat sendiri. Ini bukan salahmu, jelas bukan salahmu, ini tentu salahku. Aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencintaimu. Kamu terlalu gemerlap buatku yang gelap. Sinaranmu terlalu terang untuk aku yang selalu gamang. Aku tidak bisa memaksa diriku sendiri untuk tidak mencari tahu tentangmu dan semakin aku tahu tentangmu-- semakin aku tidak ingin komunikasi kita terhenti secepat ini.
Hampir setiap hari, kerjaanku mengintip Instagram-mu di sela-sela kesibukanku. Memang, hal ini hanya dilakukan oleh pengecut sepertiku, atau hanya dilakukan oleh gadis-gadis yang mencintai suara dan karyamu. Aku juga sadar diri, dibandingkan mereka yang jauh lebih sempurna, aku layaknya asap rokok yang terlihat hitungan detik, lalu segera hilang diburu angin. Aku pun sadar, rasanya tidak pantas jika gadis sepertiku berharap lebih dekat denganmu. Ya, walaupun aku tahu memang tak mungkin, tapi setidaknya aku ingin memperpanjang waktu berkenalan denganmu, meskipun mungkin semua akan berakhir sama yaitu -- menyakitkan.

Aku tidak berharap lebih, harapanku sebenarnya hanya ingin waktu berkenalan denganmu bisa lebih panjang. Karena kamu berhasil membuatku nyaman dan jika sehari tidak mendengar kabarmu, rasanya seperti aku sedang menjalani hari tanpa melibatkan jiwaku di dalamnya. Aku masih berharap bisa membaca setiap pesanmu, meskipun hanya sebatas tulisan. Aku masih berharap bisa membicarakan banyak hal tentang banyak cerita dan membicarakan hari-harimu yang menurutku terkesan begitu menyenangkan.
Maafkan jika ini terasa berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu menganggapku berdrama. Aku juga tidak peduli jika kamu menganggapku terlalu berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu memilih menjauh setelah tahu bahwa aku cuma gadis bodoh yang selalu melibatkan perasaan dalam setiap peristiwa yang aku alami. Aku tidak peduli jika hilangnya percakapan kita sebagai akibat bahwa kamu hanya ingin kita berteman biasa. Mungkin, aku terlihat makin menyebalkan dengan sikapku yang berlebihan. Tapi, percayalah, sekarang aku dalam keadaan mulai mencintaimu, dan menerima kenyataan bahwa kita tak lagi sedekat dulu; cukup membuatku sekarat karena memikirkanmu. Dengarlah, bersamamu pun sudah cukup membuatku merasa ada, maka mengapa aku harus menuntutmu menjadi milikku seutuhnya?

Apakah kamu tahu betapa buramnya hari-hariku tanpamu? Apakah kamu paham betapa aku lelah membalas setiap chat dari pria-pria yang sebenarnya tidak menarik bagiku, tapi itu semua aku lakukan karena aku ingin melupakanmu? Apakah kamu sadar, bahwa setiap aku membalas chat dari pria-pria itu, aku selalu berharap bisa menemukan pria yang sangat mirip denganmu. Aku berharap bisa menemukan dirimu dalam diri pria-pria yang berjuang keras mendekatiku. Sadarkah kamu, bahwa sebenarnya selama ini aku hanya menginginkanmu dalam hari-hariku?

Apakah kamu tahu, aku masih berharap bahwa suatu saat kita bisa bertemu? Aku masih berharap bisa melewati jalan  bersamamu, melihat sekolah De Britto tempat kamu pernah mengenyam pendidikan, melewati kampusmu yang sudah terlihat dari jembatan layang, menikmati kembang api di Alun-alun Utara Jogjakarta, membicarakan apapun sambil menatap matamu, dan kita menghabiskan malam di Jogjakarta hingga tidak ada ruang di hatiku yang tersisa-- seutuhnya penuh untukmu.

Apakah kamu tahu, aku sudah memilihmu sejak pertama kali kamu salah memencet huruf di-chat kita? Apakah kamu tahu, aku telah menjadikanmu satu-satunya ketika mungkin kamu hanya menjadikanku salah satunya? Apakah kamu tahu, aku masih menunggumu, menunggu pertemuan kita, menunggu segalanya yang mungkin tidak akan jadi nyata? Apakah kamu tahu, aku berharap Tuhan memutar ulang waktu, sehingga aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua.

Beri aku kesempatan untuk menyanyikan cinta di telingamu. Beri aku kesempatan untuk menunjukan bahwa ketulusan itu masih ada. Beri aku kesempatan untuk memelukmu di bawah langit dan sekali lagi meyakinkanmu-- bahwa aku adalah penggemarmu nomor satu.

dari Chacha-mu
yang  diam-diam;
mendoakanmu
w/ love KartikaKrystal
@chachartika95

Tanpamu

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini bernama tanpamu."
Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan harus terjadi, untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.

Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu sekedar mengingatkan untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.

Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.

Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu  tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu aku dan kamu menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu.

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya :)

w/ love KartikaKrystal
@chachartika95

TAK SEBERCANDA ITU

kata Sudjiwo Tedjo : "Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu”


Mungkin ini yang disebut rasa, sedikit tetapi cukup.
Cukup membuat hati penuh di terasnya, bukan di dalamnya.
Mungkin memang iya.
Namun, beberapa ke-iya-an itu seringkali tersamar oleh ke-tidak-an yang kejam.
Karena aku tidak ingin menggiringmu.
Aku tak mau mendahului dan menuntunmu.
Karena aku tak mau mencampuri rasamu.
Rasamu.... rasamu, bukan rasa rasaku.
Karena aku tidak mau mengajakmu singgah di pelataran takdirku.
Aku hanya mempersilahkan, jika-jika kamu bersedia.
Itu saja.
Karena aku tidak ingin menatap mata bulat itu secara detail.
Aku takut bola mata itu memancarkan gemerlap yang akan menyinariku.
Tidak, aku tidak mau seperti itu.
Matamu itu, biarlah indah seperti itu.
Aku tidak akan menatapnya.
Karena aku bukan pemandangan yang bagus untuk mata indahmu.
Antara kau dan aku.
Antara benang merah yang terkait hingga membentuk kalimat penuh kekuatan.
Tetapi, aku tidak ingin menyeretmu dengan kekuatanku.
Kekuatanku terlalu kuat sepertinya.
Untuk semua kertas yang terbuang atau buku yang hangus.
Jangan sampai abunya membuat matamu perih.
Karena aku masih menginginkan kamu untuk bisa melihat yang indah.
Tetapi jangan diriku.
Aku akan menikmati senyum itu melalui CCTV-ku sendiri.

bagi saya memperjuangkan seseorang tak bisa dianggap sebagai main-main.. jika sayang, jika cinta, jika serius, dan jika kalian menganggap bahwa dia memang ditakdirkan untukmu, maka perjuangkanlah, milikilah, pertahankanlah.. karena penyesalan akan hadir dibelakang saat kalian tau bahwa memang dia lah yang harusnya kalian perjuangkan..dan jika hanya kamu yang berjuang sedangkan dia tidak ingin diperjuangkan, maka lepaskan..bagi saya orang-orang yang tak ingin berjuang tak pantas untuk diperjuangkan.. kita berhak mendapatkan yang lebih baik, yang sama-sama ingin berjuang, yang sama-sama ingin tercapai sebuah tujuan.. dan percayalah dia yang tak menghargai perjuanganmu, suatu saat dia yang akan menyesalinya, mencari, dan mengejarmu kembali.. kemudian disaat itu pilihan kita hanya dua, pertama kembali memperjuangkan orang yang pernah tak menghargai usaha kita, atau kedua melepaskannya dan kita mencari seseorang yang lebih baik yang ingin sama-sama berjuang :)

Selasa, 15 September 2015

Berharap Banyak :")

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.


Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu ku nomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak hingga aku muak!!! , hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kau tinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kau terus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kau ciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman lelaki yang selalu disisiku, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku sudah terbiasa tersakiti, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya
w/ love Kartikakrystal
@chachartika95

Rabu, 09 September 2015

Mencintaimu secara Berlebihan!

Untuk yang selalu mengira, saya tak lagi mencintainya.... 


Pertama kali melihatmu di tempat yang disinari matahari terik itu, aku tak pernah menyangka bahwa kita bisa berada sampai titik ini. aku percaya tentang dunia yang berkonspirasi hanya untuk mempertemukan dua orang yang saling tak tahu dan tiba-tiba bisa punya perasaan rindu. Aku menyadari itu, namun aku tak pernah tahu apakah hatimu sama membiru.

Sejak saat itu, aku sering diam-diam menatapmu, dari sudut yang tak pernah kautahu. Tuhan kembali merahasikan kehendakNya, ketika entah dengan kekuatan apa, kita sering bertukar berita melalui BBM. Dan, aku sungguh sangat membenci hal itu, mengapa saat itu kugubris semua candaanmu? Mengapa saat itu kubiarkan kamu mengetuk pintu hatiku?
Aku pun juga tak tahu, apa ini cinta atau hanya rasa nyaman yang terlalu berlebihan? Apa ini mabuk kepayang atau hanya ketertarikan sesaat? Tapi, kalau kauingin tahu, akan aku bisikkan sesuatu. setiap kausapa aku lebih dulu, dan setiap jengkal detik yang kita gunakan untuk tertawa walau tanpa suara; aku sungguh menghargai saat-saat itu. Sejak kamu masuk dalam daftar orang yang kusebut dalam doa, kamu sudah berada di sana, di hatiku; yang dulu kuyakini tak akan lagi dihuni pria pendiam seperti kamu.
Kuterima diammu dengan cuma-cuma, kubalas sikap dinginmu tanpa banyak suara. Kuhargai semua bisumu yang hanya bisa munculkan tanya. Aku ingin tahu, apa sesungguhnya yang ada dalam hatimu? September beberapa tahun lalu, aku masih ingat kita pernah begitu hangat. Tak ada panggilan sayang, tak akan panggilan cinta, dan tak ada ungkapkan perasaan. Tapi, kupikir semua itu tak kita butuhkan, aku dan kamu sudah begitu asik dengan yang kita jaga selama ini. Sebentar, sebentar, kita jaga? Apakah memang benar-benar kita jaga? Ataukah hanya aku yang berjuang menjaga “kita” sendirian? Dan, enggan berhenti sebelum kesakitan?
Aku ingat percakapan kita kala itu, kata-kata di dalamnya tak pernah kulupa. Kalau aku bisa minta pada Tuhan untuk menyimpan semua dengan sangat rapi dan bisa mengulang peristiwa manis itu untuk kesekian kali, aku tak segan-segan berkorban apapun; asal kita bisa seperti dulu lagi. Tidak menjauh seperti ini.

Tapi, sekarang bukan lagi seperti dulu. Kamu tiba-tiba menjauh tanpa alasan yang tak kupahami. Aku ingat, kita tak ada lagi komunikasi. Kabarmu hanya kucuri-curi dari akun Twitter, path dan instagram-mu beritamu hanya kudengar dari hasil bertanya ke sana dan ke sini. Jujur, kalau kaumau tahu, aku tersiksa beberapa bulan ini. Terutama ketika bertemu denganmu, ketika menerima kenyataan bahwa kita telah berbeda. Kita bertemu tp kulihat sosokmu yang tak bisa kusentuh, setiap hari juga aku terus bisu berusaha tak bertanya soal perubahan sikapmu yang membuatku hampir meledak karena tak kunjung mengerti pikiranmu.
Apa yang bisa kulakukan agar aku tetap bertahan? Kularikan rasa rinduku ke dalam tulisan. Di sana aku bisa menangis pilu tanpa membuat tuli telingamu. Aku rindu kamu dan kamu nampaknya tak pernah tahu betapa selama berbulan-bulan ini, aku tak bisa berbuat banyak selain menunggu kamu bicara lebih dulu. Aku selalu kuat membisu, meskipun rasanya ini bodoh, entah mengapa aku tak ingin melupakanmu.
Kalau aku punya keberanian lebih, rasanya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Seberapa butakah matamu sehingga kautak melihat perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga kautak sadar ada seseorang yang berjuang untukmu? Mengapa kaumudah mengakhiri yang kupikir bisa berjalan lebih lama dari ini? 
Kamu ini tega sekali, kamu tahu tidak rasanya jadinya perempuan yang memikul beban karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Apa kamu tahu rasanya jadi aku, yang terus bertanya-tanya soal perasaanmu?

Apa kautahu rasanya bertemu dengan orang yang kaucintai, setiap hari, namun kauharus bertingkah seakan tak ada rasa, seakan kausudah lupa, seakan semua tak pernah terjadi? Kualami rasa sakit itu setiap hari tanpa bisa aku menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri yang terlalu mencintaimu secara berlebih.

dari perempuan

yang  kauanggap perhatiannya hanya mainan
 yang kaupikir cintanya hanya bualan 
@chachartika95
w/ love kartika krystal