Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Beda Cinta, Setipis Keyakinan

Saya mengingat lagi cerita teman saya. Baru beberapa bulan lalu saya temui dia di cafe, di bilangan Depok, Jawa Barat. Jujur, pikiran saya masih terbebani oleh cerita yang ia ungkapan. Tentang hubungannya, tentang kekasihnya, yang jauh dari kata normal. Iya, mereka berbeda, tidak sama seperti orang lainnya.
Ketika dia bercerita dengan menggunakan air mata, saya tahu bahwa beban yang ia pikul sangatlah berat. Air mata yang saya lihat hari Rabu itu adalah luapan emosinya yang sempat tertahan. Saya bisa rasakan sakit yang memukul-mukul perasaannya. Tapi, dalam duka, masih terselip kebahagiaan yang mampu ia ceritakan pada saya, walau dengan suara tertatih, walau dalam halaan napas lirih.
Jatuh cinta adalah dua kata yang sulit dijelaskan. Tidak terdefinisikan. Soal hati, kata-kata seakan tak ahli untuk memaparkan juga mendeskripsikan. Saya tidak akan berbicara tentang cinta, juga tentang mimpi omong kosong yang diciptakan saat hadirnya cinta. Ini semua soal kenyataan, soal dunia yang begitu klise. Agama.
Air mata memang sia-sia,  karena yang dibutuhkan di sini adalah kedewasaan. Semua berawal manis dan indah. Teman saya, awalnya memang bercerita dengan senyum sumringah. Ia berkenalan dengan seorang pria, secara tidak sengaja. Tentu saja, kita seringkali menganggap banyak hal terjadi karena kebetulan. Kebetulan mungkin adalah rencana Tuhan yang belum benar-benar kita pahami.
Tatapan mereka saling beradu, hanya senyum dan tawa yang tercipta kala itu. Teman saya, wanita beragama Khatolik tersebut, baru selesai pentas tari. Lalu, dunia berkonspirasi, mempertemukan dia dengan seorang pria, yang membuat hatinya merasa nyaman. Pria yang tiba-tiba merangsuk masuk dalam ingatan dan jengkal napasnya.
Indah memang, cinta mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna, ketika perkenalan teman saya dan pria itu berlangsung ke tahap yang lebih dalam, lebih dekat.
Segalanya terasa manis, walaupun juga terasa asing. Rasa nyaman itu kini berangsur berubah menjadi rasa takut kehilangan. Mereka berusaha untuk saling melindungi satu sama lain. Mungkin, ketika salib berada dalam genggaman tangan teman saya, dan ketika tasbih berada dalam genggaman pria itu; dengan air mata, mereka saling mendoakan.
Saya bisa rasakan kehangatan mereka. Sangat hangat. Sangat dekat. Saya iri, mengingat hubungan saya yang lebih dulu kandas termakan perpisahan. Saya dan pria di masa lalu tersebut tidak sekuat dan setegar teman saya. Oh, jadi curhat. Sungguh, saya benci membahas masa yang tak ingin saya ingat lagi. Teman saya dan kekasihnya masih terus mempertahankan walau mereka berbeda. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk tidak saling jatuh cinta.
Inilah yang membuat saya semakin terharu, teman saya menunggu kekasihnya salat di masjid. Ia menunggu dengan sangat sabar meskipun lirikan mata yang tajam tertuju padanya.
Dalam perbedaan, mereka saling menguatkan. Keindahan mereka sampai pada kelopak mata saya. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Terharu? Prihatin? Sinis?
Hey, mereka berbeda dari pasangan yang lainnya. Mereka bukan pasangan bermanja-manja yang mabuk kepayang akan cinta, saling bergelayut mesra dalam pelukan. Sampah. Pacaran model cinta monyet. Teman saya dan kekasihnya sungguh berbeda, mereka punya kebahagiaan yang tak dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh banyak orang yang sibuk menghakimi hubungan mereka.
Apa yang membuat dua orang saling memperjuangkan jika bukan karena cinta?

Cinta Butuh Waktu :^

 "Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan." - Vierratale

           Senyumnya adalah bagian yang paling kuhapal. Setiap hari kunikmati senyum itu sebagai salah satu pasokan energiku. Kali ini pun tetap sama, ketika kupandangi ia yang sedang menulis sesuatu di kertasnya. Matanya sesekali mengarah padaku, ia menyimpulkan senyum itu lagi.
            Aku yang sedang menggambar sketsa wajahnya, memerhatikan setiap lekuk pahatan tangan Tuhan. Detail wajahnya tak kulewati seinci pun. Hidungnya yang tak terlalu mancung, pipi dan rahang yang tegas, dan bentuk bibirnya yang mencuri perhatian siapapun saat menatap lengkungan senyum itu. Aku penggemarnya, seseorang yang mencintainya tanpa banyak ucap, namun dengan tindakan yang nyata.
            Secara terang-terangan, aku tak pernah bilang cinta, namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku membangun percakapan. Aku mencintainya. Terlalu mencintainya. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan, meskipun semua singkat, tapi rasanya cinta begitu terburu-buru mengetuk pintu hatiku.
            Di sebuah taman, tempat kami biasa bertemu, tempat kami biasa melakukan hal sederhana yang begitu kami cintai. Ia menulis tentangku. Aku menggambar sosoknya. Setelah karya kami sama-sama selesai, kami saling menukar hasil jemari kami.
            Tulisannya yang indah dan gambarku yang sederhana sama-sama menyumbangkan senyum di bibirku dan bibirnya. Betapa kami sangat bahagia cukup dengan seperti. Betapa cara sederhana bisa membuat aku dan dia merasa tak butuh apa-apa lagi, selain kebersamaan dan takut akan rasa kehilangan.
            “Kamu pernah takut dengan rasa kehilangan?” ucapnya lirih di sela-sela gerakan jemarinya yang masih menulis sesuatu di kertas.
            “Pernah dan aku tak akan mau lagi merasakan perasaan itu.” jawabku secepat mungkin, jemariku masih memperbaiki gambarku yang hampir selesai. Kuperhatikan lagi bentuk wajahnya, rahang dan jambang rambutnya yang begitu kusukai. Seandainya aku punya keberanian untuk menyentuh wajah itu, selancang ketika aku menyentuh batang pensil saatku menggambar.
            “Kalau kausudah berusaha begitu kuat, namun kautetap bertemu pada rasa kehilangan, apa yang akan kaulakukan?”
            Kubiarkan pertanyaannya menggantung di udara sesaat. Kuberi jeda waktu agar ia masih bertanya-tanya pada rasa penasaran dalam hatinya. Semilir angin dan goresan pensilku di kertas lebih terdengar jelas dalam keheningan kami berdua.
            “Apa yang akan aku lakukan?” aku mengulang pertanyaan darinya, semakin membangun rasa penasarannya yang membesar.
            Kening pria itu mengkerut ketika pertanyaannya kuulang, “Iya, apa yang akan kaulakukan jika rasa kehilangan tiba-tiba menyergapmu meskipun kamu sudah berusaha keras untuk menggenggam?”
            Helaan napasku terdengar santai, “Aku akan selalu bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku harus merasakan kehilangan. Setelah aku tahu jawabannya, demi apapun, aku tak akan mengulang kesalahanku lagi. Dan, aku akan semakin memaknai pertemuan sebagai hal yang tak boleh disia-siakan.”
            Jawabanku membuat ia semakin tajam menatap wajahku, aku yang menunduk dan masih menggambar, jadi salah tingkah ditatap dengan tatapan seperti itu. Ia arahkan jemarinya ke atas kepalaku dan membelai rambutku. Aku tak tahu maksud dari sentuhan itu, entah mengapa seketika tubuhku tak bisa memberi banyak tanggapan atas sentuhannya. Aku belum bisa merasakan adanya cinta dalam setiap sentuhannya.
            Ia kembali menulis, kuintip sedikit ternyata kertas tempat ia menulis sudah hampir penuh. Dengan matanya yang indah, ia kembali meminta perhatianku, “Aku merindukan dia.”
            “Wanita itu lagi?” tanggapku dengan cepat.
            Ada sesuatu yang bergerak dalam dadaku ketika ia mengucap kalimat singkat itu. Terdengar singkat memang, tapi entah mengapa rasanya aku harus butuh waktu lama agar tak merasa sakit dengan pernyataan yang seperti itu. Kali ini, aku merasa dianggap tak ada.
            “Aku selalu bilang padamu, setiap hari, berkali-kali, tak perlu lagi kamu merindukan seseorang yang bahkan tak pernah menghargai perasaanmu!”
            Senyumnya terlihat getir ketika aku berbicara dengan nada tinggi.
            “Apakah bagimu, ada kehilangan yang tak menyakitkan?”
            “Semua kehilangan pasti menyakitkan, kita sebagai manusia hanya bisa mengobati setiap luka, sendirian atau bersama seseorang yang baru. Itu semua pilihan yang kita tentukan sendiri.”
            Tanpa menatap wajahku, ia kembali mengajakku bicara, “Apakah obat pengering dari luka basah bernama kehilangan?”
            Aku berhenti menggambar. Kuketuk-ketukkan pensilku di atas kertas dan berpikir dengan serius, “Luka pasti kering, tapi bekasnya akan selalu ada. Keikhlasan dan kepasrahanlah yang membuat bekas luka tak lagi perih.”
            “Lantas, apa lagi?”
            “Membuka hati untuk seseorang yang baru!” seruku dengan nada bersemangat, dengan senyum singkat.
            “Ah, tapi bukankah semua butuh waktu? Termasuk juga soal cinta.”
            “Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan?” aku mengangguk setuju, “Tapi, sampai kapan kaubutuh waktu? Sampai orang yang mencintaimu pada akhirnya memilih pergi, karena tak terlalu kuat diabaikan berkali-kali?”
            Aku tertawa dalam hati; menertawai diri sendiri.
            “Lihatlah, kamu melucu!” ia ikut tertawa sambil terus melanjutkan tulisannya, “Cinta memang butuh waktu dan waktu yang dibutuhkan cinta adalah teka-teki yang sulit diprediksi.”
            “Ah, kamu ini, semua hanya soal kesiapan hati.” bibirku meringis, mencoba menutupi hatiku yang mulai nyeri, “Jangan pernah takut dengan orang baru yang datang ke dalam hatimu, karena ia tak ingin banyak hal, selain membahagiakanmu.”
            “Aku juga berpikir begitu, tapi aku takut jika luka yang masih kubawa, akan menjadi luka baru di hati orang yang mencoba masuk ke dalam hatiku.”
            “Bagi orang yang ingin membahagiakanmu, tak akan pernah ada luka, meskipun cinta yang ia tunjukkan begitu lambat kaurasakan.”
            “Tak akan pernah ada luka?” tanyanya dengan wajah tak percaya, ia menatapku sekali lagi, dengan tatapan sangat serius, kali ini.
            “Ketika tulus mencintai seseorang, ia melakukan banyak hal karena ia mencintaimu, bukan karena ia memikirkan apa yang akan ia dapatkan ketika ia mencintaimu.”
            “Begitu manisnya cinta....”
            “Lebih manis lagi jika tak hanya satu orang yang berjuang untuk membahagiakan, harus saling membahagiakan.”
            Kalimatku membuat ia tersenyum lebar. Ia membubuhi tanda tangan untuk mengakhiri karya tulisnya di kertas. Aku menulis namaku dan tanggal pembuatan gambar ketika aku selesai menggoreskan goresan terakhir.
            Setelah karya tulisnya selesai dan karya gambarku selesai. Kebiasaan itu terulang, kami saling menutup mata sebelum dia melihat gambarku dan aku membaca tulisannya. Ketika karyanya ada di tanganku dan karyaku ada di tangannya, kami pada akhirnya membuka mata.
            Ia menikmati gambarku dengan senyum memesona, senyum yang paling kucintai dan kukagumi. Gambarku adalah sosoknya yang kujadikan sketsa di kertas A4. Aku tak melewatkan detail wajahnya yang indah. Hidungnya kugambar semirip mungkin, rahangnya yang tegas juga jambangnya yang menggemaskan, juga kugambar dengan goresan yang tegas. Ia mengucap terima kasih. Aku bisa menebak wajahnya yang terharu ketika karya itu kuberi judul Masa Depan.
            Giliran aku yang membaca karya tulisnya. Awalnya, kukira ia menulis tentangku, tapi ternyata aku salah. Ia menulis tentang seseorang yang bukan aku, seseorang yang hidup dalam masa lalu dan kenangannya. Hatiku teriris membaca setiap paragraf dalam tulisannya; tak ada aku di sana. Aku hanya membaca tentang sosok lain, sosok yang dulu ia ceritakan dengan wajah sedih, sosok yang begitu kubenci karena menyia-nyiakan pria yang kucintai saat ini. Karya tulis itu ia beri judul Masa Lalu.
            Aku mengulum bibirku. Usahaku masih terlalu dangkal baginya. Cinta yang kutunjukkan ternyata belum cukup menyentuh hatinya. Ia masih terpaut pada masa lalu ketika aku sudah menganggap sosoknya sebagai masa depan. Ia masih belum melupakan masa lalunya, ketika aku secara perlahan-lahan berusaha menyembuhkan lukanya yang perih.
            Aku belum berhasil seutuhnya.
            Ah, mungkin aku masih harus terus berjalan dan berjuang lebih dalam. Aku akan terus berjuang, sampai ia juga menganggapku masa depan, seperti aku selalu menganggap dia sebagai bagian masa depanku.
            Cinta butuh waktu. Butuh waktu untuk membuat ia segera melupakan masa lalunya kemudian mencintaiku. Butuh waktu untuk membuat ia memahami, ada cinta yang lebih masuk akal untuk ia percayai.
            Cinta memang butuh waktu.
*lagu Vierratale diciptakan oleh Kevin Aprilio

Selasa, 11 September 2012

Cinta Butuh Perjumpaan nyata? (CERPEN/FANFICTION)

“Cinta memang butuh perjumpaan, bukan paksaan”
Aku tertegun membaca tulisannya, aku bahkan bisa meringis malu hingga tertawa lugu. Semua karena tulisannya, dia benar-benar memaksa otakku untuk terus bertanya dan mencari jawabnya. Dia membuat bagian kosong dalam hatiku menjadi terisi oleh semua daya tarik dan cara pikirnya. Ini memang gila atau bisa disebut juga abnormal. Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh cinta hanya karena tulisan? Ketika deret huruf dan angka menjadi sebab tak logis dari jatuh cinta. Cinta memang bisa tercipta dalam berbagai keadaan, bahkan dalam keadaan tak normal sekalipun.
Terlewat sudah 2 bulan sejak kali pertama aku memperhatikan tulisannya. Aku semakin jatuh cinta dengan pola pikirnya, aku semakin tak berdaya dengan narasi-narasi luar biasa yang dihasilkan otaknya. Otakku mulai tak mau mengikuti perintah tuannya, ya dia berpersepsi sendiri, akhir-akhir ini dia sering membuat bayangan seorang pria yang wajahnya samar-samar, mungkinkah seseorang yang saya cintai hanya karena tulisan itu adalah seorang pria? Sementara hatiku mulai sok tahu dengan ideologi yang dia reka-reka sendiri. Memang sulit untuk menyeimbangkan hati dan logika ketika cinta mulai tercipta.
Aku mulai brutal karena dipermainkan oleh otakku sendiri, aku harus menemui penulis itu! Aku harus mengetahui wujud nyata seseorang yang telah membuatku jatuh cinta! Aku mulai sibuk dengan hal-hal absurd yang bahkan tak kuketahui sebab mengapa aku harus melakukannya. Sampai pada suatu saat dimana aku memberanikan diri untuk mengirim pesan, menjadi sebagian kecil dari banyak orang yang mungkin seirng mengirim pesan untuknya.
“Hey.” Satu kata yang kukirim padanya, tanpa rencana, penuh tanda tanya.
“Ya?” Dia menjawabnya dengan cepat dan singkat, aksi reaksi yang memukau. Satu kata yang mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
“Punya e-mail enggak, Mas, Mbak?” Tanyaku lagi, dengan senyum yang melengkung sempurna dibibirku, aku masih tak percaya akan hal itu.
“Punya, ******************@*****.com” Jawabnya singkat, sesingkat pertemuan kita di dunia maya kala itu.
Aku masih tak percaya dengan yang terjadi. Penulis yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu membalas pesan singkatku. Tulisan memang mampu membuat seseorang jatuh cinta secara tiba-tiba, sedangkan dunia maya mampu mengagetkan seseorang secara tiba-tiba. Hanya dengan kata “hey” itu, semua berubah jadi begitu indah, semua mengalir dengan begitu lumrah.
***
“Aku suka tulisanmu.” Sapaku singkat, lewat e-mail. Sapa tak tersentuh dan menjaring maya.
“Iya ya? Wah terimakasih ya. Saya juga suka tulisanmu yang bercerita tentang dunia maya itu.” Jawabnya lugu, aku terbelalak, jantungku semakin cepat berdetak. Dia tak pernah tahu bahwa ceritaku selalu terinspirasi dari sosoknya yang maya dan tak tersentuh.
“Kamu serius? Pujian singkatmu benar-benar meruntuhkanku.” Balasku sejujur-jujurnya. Saat aku membaca pesan singkatnya, aku tersenyum malu-malu, tapi jauh di jarak yang tak kuketahui, apakah dia juga begitu?
“Iya, aku serius. Ah, kamu berlebihan.” Sekali lagi dia membalas e-mailku. Panggilan “saya” dan “anda” berubah menjadi “aku” dan “kamu”. Benar-benar absurd dan tak terencana, apakah ini cinta?
“Hahaha. Jadi, kamu pria? Tinggal di Jakarta?”
“Ya, Jakarta! Kota yang tak pernah tidur, 11 12 denganku yang jarang tidur! Dan, kamu wanita? Jakarta?”
“Aku wanita dan menetap di Jakarta. Jadi, ada yang bisa dihubungi selain e-mail? Aksi reaksi dan balasannya lebih cepat.” Pancingan terselubung yang kulontarkan pada sosoknya yang maya itu.
“Phone number? Minta nomor handphone saja berbelit-belit, lucu sekali ya kamu. 081*********” Jawabnya singkat, nafasku tercekat. Sialan! Pria ini membuat otakku semakin sibuk memikirkannya!
Tak disangka percakapan kecil melalui e-mail itu tercipta dengan begitu lugu dan penuh ketidaksengajaan.Mahluk tak bernafas bernama handphone benar-benar mendekatkan kami yang dulu penuh dengan jarak.
***
Dua minggu ini aku masih saja sering meringis sendirian saat membaca pesan singkatnya. Candanya, cara dia berbicara, dan cara dia mengutarakan pendapatnya. Seringkali percakapan kecil yang tercipta membuatku percaya bahwa dia benar-benar ada dan mungkin merasakan perasaan yang sama denganku.
Dia mampu membuatku percaya pada apa yang sebenarnya tak kulihat. Dia tunjukkan banyak hal yang dulu tak pernah kupercayai, salah satunya cinta. Dia perlihatkan kekuatan itu tanpa sengaja kepadaku. Dia buatku jatuh tapi kemudian dia genggan tanganku erat-erat, untuk meyakinkan bahwa aku tak jatuh cinta sendirian.
“Sudah makan?” Sapaku sederhana, mengirim pesan singkat untuknya.
“Belum. Ada apa? Kamu sudah makan?” Jawabnya dengan cepat, dari jawabannya yang singkat, aku tahu bahwa dia sedang sibuk.
“Aku sudah, nanti kalau sudah selesai kerjaannya segera makan ya. Jangan telat makan!” Perintahku padanya. Mungkin kala itu dia sedang membaca ribuan tulisan sambil memasang wajah kantuk di depan laptopnya.
“Iya, nanti malam aku ingin bicara sesuatu. Sediakan waktumu!” ucapnya melalui pesan singkat. Aku tersentak, sepertinya ada hal penting yang ingin dia biacarakan.
***
“Jadi, ada yang ingin kaubicarakan?” Aku mengawali percakapan yang diselimuti rasa lelah setelah aku dan dia bekerja seharian.
“Ya, kaubutuh perjumpaan nyata?” dia bertanya dengan suara lelahnya.
“Aku? Kita!”
“Ya, kita butuh perjumpaan nyata!”
“Mengapa?”
“Karena tak selamanya kau akan hidup dalam dunia maya.” Jelasnya santai.
Setiap perasaan memang butuh perjumpaan.” Ucapku mantap.
“Perjumpaan nyata!” Sambungnya tanpa ragu.
“Dimana?”
***
Hujan kala itu benar-benar memancing emosiku untuk meledak-ledak, tapi kubiarkan emosi itu luruh bersama derasnya bulir-butir hujan yang menyentuh atap Stasiun Kereta Api Pondok Cina. Entah mengapa stasiun ini selalu terlihat sepi. Ah, sudah pukul 17.00, hujan masih saja mengguyur malu-malu, rintik-rintiknya seperti meledek, jatuh pelan-pelan tanpa merasa bersalah. Sedangkan jam janjian telah lewat 30 menit, kereta juga taj kunjung tiba. Aku kelimpungan. Aku kebingungan.
“Kamu dimana?” pesan singkat yang ke-10 dengan pertanyaan yang sama. Dari siapa? Dari dia, sang penulis yang kucintai karena tulisannya!
“Stasiun Pondok Cina, aku terjebak hujan.”
“Pantas lama, yasudah tidak usah, aku ada meeting mendadak.” Sekejap saja hatiku langsung ngilu. Semudah dan secepat itukah? Mengapa dia tak mau menunggu?
Rasanya aku ingin membuat hujan baru di pelupuk mataku. Aku sangat ingin menangis kala itu. Aku mengumpat hujan, mengumpat senja yang tetap saja menangis. Senja masih saja senang digoda hujan. Aku semakin kebingungan.
Dinginnya hujan masihs aja menusuk tulang, hatiku mengerang. Diam-diam aku menangis sendirian, saat aku sedang sibuk mengucek-ngucek mataku agar tak terlihat sembab, aku merasa ada tangan lembut yang menarik tanganku. Lalu, aku menatap heran pada seseorang yang ada di sampingku, dengan tatapan heran layaknya menodong dia dengan pertanyaan “Siapa kamu?”
“Aku yang dua minggu terakhir ini selalu kauingatkan agar tidak telat makan.” Sambil tersenyum, pria itu menatapku.
Kuperhatikan matanya yang redup, kantung matanya yang hitam, pipinya yang tius, dan bibirnya yang tipis. Aku ikut melengkungkan senyum. Wajahnya terantuk diujung kantuk, tubuhnya basah oleh hujan senja. Kala itu, dia begitu memesona

Hanya Karena Berbeda Agama (Cerpen)

“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda”
Seusai sholat Ashar, aku menjemput dia di gereja. Aku menunggu di depan gereja bersama motor tuaku buatan sebelum masehi saat kerajaan Singosari masih berdiri. Tatapanku lekat ke bagian samping gereja. Di sebuah ruangan di samping gereja, ada seorang wanita dengan senyum simpulnya menyalami anak-anak kecil yang keluar dari ruangan itu. Wanita itu bernama Bianca. Wanita yang 3 tahun terakhir ini aku anggap penting, terpenting kedua setelah ibuku. Wanita ini berbeda, Minggu sore biasanya seorang wanita menghabiskan sisa weekend mereka dengan “gentayangan” di berbagai trade center, tapi Bianca menghabiskan Minggu sorenya untuk mengajar anak-anak sekolah minggu di gerejanya. Dia menyayangi anak-anak seperti aku menyayangi dia atau mungkin sangat amat menyayangi.
“Udah lama ya, Gil?” Sapanya ringan tapi mengagetkanku.
“Ragil Kurniawan! 3 tahun kenal tetap aja panggil Gil Gil, Gila! Enggak, aku juga baru nyampe kok.” Aku menjawab pertanyaannya.
“Sensi banget! Laper ya? Eh, ada rumah makan bakmi di dekat gerejaku. Kata temenku enak lho. Coba yuk! Aku yang traktir!” Dia mengajakku dengan semangat.
“Boleh. Kalau aku nambah, kamu bayarin juga kan?”
“Iyadeh. Makan sekalian sama piring-piringnya deh ya!”
“Sekalian sama gerobak deh.”
“Ih, cepet ah! Aku laper!” Dia memasang tampang cemberut sambil menaiki motorku. Cuma dia satu-satunya wanita yang mungkin tidak malu menaiki motor tua dengan pengendara acak-acakan seperti aku ini.
***
“Bakminya ternyata enak! Aku kira enaknya cuma kata orang-orang aja. Ternyata enak beneran!” Dia berkata dengan penuh keyakinan, untuk meyakinkan otakku mungkin.
“Semua bakmi ya rasanya kayak gini!”
“Sstt.. frontal banget sih!” Dia menarik hidungku sampai merah. Sakit!
“Lebay! Baru ditarik pake tangan kan, bukan pake garpu bangunan!”
“Sangar banget sih!” Aku membalas menarik hidungnya tapi dia malah tertawa. Aku menikmati suasana ini, suatu saat mungkin aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh, aku ingin menjadikan dia sesuatu yang satu-satunya kulihat saat bangun pagi, tapi kita berbeda, bumi dan langit. Sesuatu yang kita yakini, agama, malah menjadikan kita terasa benar-benar berbeda.
***
Sesampainya di rumah, aku melihat mama sedang menonton televisi. Aku duduk di samping beliau dan mencium tangannya. Tanpa berkata-kata, aku langsung meninggalkan beliau menuju kamar.
“Jemput Bianca lagi ya?” Suara mama yang tinggi mengagetkanku.
“Iya,Ma.” Aku menjawab pendek.
“Kamu tuh gak ngerti ya kalau mama bilangin! Selesai sholat Ashar, langsung pulang! Gak usah kelayapan dan sok-sokan baik jemput-jemput Bian! Emang dia mau ngasih apa kalau kamu jemput? Emang dia siapa sampe kamu repot-repot buat jemput?”
“Berbuat baik kan gak salah,Ma.”
“Mama gak suka liat kalian sering-sering berdua. Kamu ngapain sih deket-deket sama dia? Mending kamu cari wanita yang lebih pantas, seagama, jilbaban, terus kenalin ke mama. Gitukan lebih baik!”
“Tapi, Ma. Seharusnya agama itu tidak mengkotak-kotakan!” Aku berkata kepada ibuku dengan nada tinggi, kesal.
“Kalian berbeda agama. Beda cara beribadah, berbeda pula siapa yang kalian sembah. Begitu pula dengan ideologi hidup kalian! Agama berbeda maka berbeda juga tujuan hidup di dunia ini. Kalian tidak akan bersatu! Alam semesta mau sesuatu yang seimbang, bukan sejoli angkuh seperti kalian!” Ibuku menghujani perkataan yang membuat aku tambah kesal, hatiku sakit, teriris.
Tuhan itu cuma satu! Hanya cara-cara menyembah-Nya saja yang berbeda!” Aku berjalan, membanting pintu kamar. Amat sangat kesal.
***
Seperti hari Minggu biasanya, selesai sholat Ashar, aku menjemput Bianca di gereja. Selesai menyalami anak-anak sekolah Minggu, dia menghampiri aku yang sedang duduk dimotorku. Dia melipat wajahnya, seperti menyembunyikan sesuatu.
“Maaf ya, Gil. Aku mau pulang sendiri. Tapi, nanti malam kita ketemu di tempat biasa ya. Aku mau membicarakan sesuatu dan itu butuh tempat sepi.” Nadanya menyimpan banyak perasaan getir. Aku takut.
***
Di bawah sinar rembulan, aku menatapnya lekat.
“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda.” Dia berbicara dan menatapku, dalam.
“Tapi kok aku gak merasa Dia bahagia? Aku ke masjid, kamu ke gereja. 8 tahun kita menjalani itu semua, tapi orang-orang sekitar menganggap kita bodoh. Mereka menertawakan dua orang berbeda keyakinan yang sering menghabiskan waktu bersama, berdua. Bukan untuk berzinah tapi untuk meyakinkan pada dunia bahwa perbedaan bukan alasan untuk tak saling mengasihi. Mereka bilang kita pacaran, tapi jutaan kali kita mengatakan sahabatan. Ah.. Sahabatan. Status yang selalu membuatku sesak. Padahal, aku begitu menyayangimu, Bi. Bahkan saat mereka menganggap kita berdua bodoh!” Aku berkata dengan segala kesesakan yang aku rasa. Lega.
“Aku juga sayang sama kamu, Gil. Ini yang selalu membuatku semakin sesak saat ngelihat mata kamu. Harusnya dunia gak sekeras ini sama kita.” Dia berkata dengan penuh kejujuran, aku merasa sesak.
“Mungkin ini akan ngagetin kamu, bulan depan aku akan mengikuti seminari suster. Seumur hidupku akan ku berikan untuk melayani Tuhan. Aku udah mikirin ini jauh-jauh hari, jadi jangan tanya kenapa karena pasti jawabannya akan benar-benar panjang!” Dia berkata dengan perasaan resah dan gundah, seperti tidak yakin bahwa dia bisa melakukan hal itu.
“Kamu yakin?”
Keyakinan itu bisa datang karena terbiasa dengan mengerti apa yang diyakinki. Aku gak yakin bisa ninggalin semua, termasuk kamu…” Dia berkata dengan mata memerah, menahan tangis.
“Kamu akan menemukan tulang rusukmu, Gil, yang jelas bukan aku. Kamu akan menemukan yang terbaik, lebih baik daripada aku.”
Aku terdiam, tidak bisa menahan air mata itu. Aku terlihat seperti lelaki bodoh, menangis di depan wanita yang aku cintai dan begitu berarti.
“Aku mungkin bakal kangen sama kamu. Tapi aku gak harus terenyuh dan terlalu memikirkan kangen itu,Gil. Kamu dan aku akan baik-baik saja.”
Aku tidak bisa berhenti menatap matanya yang benar-benar merah. Dia benar-benar ingin menunjukan padaku bahwa dia adalah wanita yang kuat.
“Pulang yuk, udah malam.” Dia menarik lengan bajuku, pertanda agar aku segera menaiki sepeda motorku.
Akhirnya kami pulang dan masih menyimpan banyak sakit. Tuhan belum puas membunuhku dengan harapan-harapan kosong yang aku buat sendiri.
Butir-butir air membasahi tanganku. Hujan! Walaupun masih rintik-rintik. Aku takut, Bian kehujanan. Butir-butir hujan itu semakin bertambah, rintik-rintiknya menjadi deras. Dingin, aku merasa begitu dingin. Dari belakang, dia menggenggam bahuku. Memelukku dengan erat. Jika seperti ini, aku ingin merasa terus kedinginan, agar dia bisa terus memelukku. Pertama kali dan terakhir kali dia memelukku, sebelum aku mengikhlaskannya sebagai kekasih Tuhan.

Dia

Aku seringkali memerhatikan senyummu dari kejauhan. Berkali-kali tersenyum dan tertawa kecil saat bayangmu berputar-putar di otakku. Menyakitkan memang jika tahu kamu tak pernah ada di dekapku, tapi bukankah cinta juga butuh rasa sakit? Rasa sakit yang kunikmati setiap goresan lukanya… karena mencintaimu.
Aku memang pengecut, tak berani mengucap cinta dan mengamit rindu di depanmu. Tapi… ada beberapa sisi gelapku yang tak kauketahui, aku selalu mendoakanmu, merapal namamu dalam  percakapan panjangku dengan Tuhan. Memang, cinta itu terasa seperti siksa, ketika pengungkapan tertahan pada bibir kelu, ketika tatapanku hanya bisa menjagamu dari kejauhan. Di atas semua siksa itu, aku tetap mencintaimu.
Ketika tatapan kita saling bertemu, seperti ada listrik yang menjalar di tubuhku, lalu jutaan kupu-kupu menari riang di perutku. Entah harus disebut apa, yang jelas saat-saat bola matamu menyentuh bening mataku, aku seperti lupa bernafas, seakan-akan ginjal berpindah ke usus dua belas jari. Aku seperti patung yang tak berpembuluh darah. Mungkin… perasaan aneh ini tak juga kamu rasakan, karena sosokmu selalu saja begitu, menganggapku teman biasamu. Atau mungkin saja, kamu lupa namaku, kamu tak ingat setiap abjad dalam nama lengkapku. Aku memang bukan siapa-siapa di matamu.
Tak dapat dipungkiri memang, pemendaman yang menyakitkan selalu butuh pengungkapan, dan rasa yang disembunyikan harus menemukan kejelasan. Aku memutar otak, berpikir lebih keras dari biasanya. Lalu… kutatap lagi dirimu di sudut itu, beberapa meter dariku. Ada tangan nakal yang seakan-akan menarik hatiku, menggelitik rasaku, untuk setidaknya mengucap sepatah dua patah kata. Tak peduli harus terlihat bodoh ataupun tolol di matamu. Aku hanya ingin kamu memerhatikanku, walaupun hanya sedikit, walaupun hanya sedetik!
Kamu bukan malaikat dengan sayap indah, atau iblis menyebalkan dengan tanduk di kepala. Ini bukan soal keindahan fisik atau seberapa tebal dompetmu, ini tentang perasaan absurd yang bahkan tak kusadari. Ini tentang perasaan aneh yang merasuki tidur malamku dan bangun pagiku, selalu saja wajahmu tergambar jelas saat itu. Aku terhipnotis. Dan kamulah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkahku, juga menganggu kinerja otakku.
Cukup! Aku sekarat! Aku harus menyapamu lebih dulu! Aku harus mendengar suara lembutmu mengalun. Ah… logika tak boleh ikut dalam permainan rumit bernama cinta. Tapi, lagi-lagi bibirku kelu! Lagi-lagi tentang rasa malu!
Lalu.
Aku mundur.
Selangkah.
Dua langkah.
Lalu kembali memerhatikanmu lagi.
Diam-diam.
Seperti biasa.